Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.


Sedikit Cukup, Banyak Kurang: Sebuah Renungan

gambar sedekah1 Sedikit Cukup, Banyak Kurang: Sebuah Renungan

“Mas, uang belanjanya habis,” kataku masygul sambil mengaduk-aduk isi tas, berharap menemukan uang yang terselip.

“Wah, gimana tuh jeng, gajian masih lama lho,” suamiku melihat kalender, “Kurang lebih masih 11 hari lagi.”

Suamiku diam sejenak, “Besok lagi dihitung bener-bener anggarannya…”

“Iya Mas… Tolong ambilkan sekian di rekening bajumuslimku, minggu kemarin aku kirim ke Malaysia ongkos kirimnya pakai uang belanja, belum dikembalikan lagi.”

Bulan ini anggaran kacau, baru dua per tiga bulan berjalan, dompet sudah benar-benar kosong. Sebenarnya ada uang sumber lain, misal dari bajumuslimku.com, namun sejak memulai usaha bajumuslimku.com, kami memang sepakat untuk benar-benar memisahkan antara pengeluaran pribadi dengan pengeluaran usaha. Kalau menggunakan uang pribadi untuk pengeluaran usaha harus diganti, begitu pula sebaliknya.

Masalahnya, jumlah uang belanja yang diambil buat ongkos kirim, kalau dihitung-hitung, hanya memenuhi kebutuhan belanja tiga sampai empat hari. Boro-boro buat sebelas hari. Rasanya masuk pasar deg-degan banget. Duh, mau beli apa, duh entar konyol lagi di depan tukang sayur, berbagai pikiran berkecamuk.

Sebelum ke pasar, uang yang dibawa dipaskan sesuai uang yang ada dibagi sebelas, sisanya ditinggal di rumah, biar tidak kepingin macam-macam. Sambil jalan sibuk sugesti diri: Alhamdulillah, makan enak hari ini… Alhamdulillah, makan enak hari ini: syukur diucapkan di muka.

Sampai di depan tukang ikan, “Berapa nih setengah kilo?”

“Ambil deh 7 ribu, abisin aja”

Setengah dari biasa, ada apa ini, “Jangan2 dah nggak bagus”

“Enak aja, periksa nih”

Beneran segar, setengah tidak percaya, saya masukkan ikan ke dalam keranjang belanja.

Di tukang ayam, “Udah deh cekernya tiga ribu aja, semua, saya mau pulang,” kata penjual ayam sambil mengemasi barang-barangnya. Wah asik, pikir saya.

Menu hari pertama anggaran baru: balado ikan, sawi santan, tempe goreng, dan sup ceker ayam untuk si Adik. Alhamdulillah, masih bisa makan enak…

Sorenya, suami pulang agak lebih cepat, “Alhamdulillah, lancar jeng di jalan.” Masih 15 menit sebelum adzan maghrib.

“Mas, mau sholat maghrib di masjid?”

“Iya deh.”

“Kalau gitu, aku titip ini,” sambil menyodorkan seraup uang logam, “doakan ya biar Mama banyak duit.”

“Ga mau ah,” kata suami, “kalau receh dimasukin kotak, kenceng banget bunyinya, bikin malu saja, itu aja kan ada lima ribu di dompetmu. Yang receh biar buat pengemis yang lewat depan rumah.”

Duh, gimana ini, pikirku, enggak pakai sedekah aja sudah mepet, besok-besok belanja gimana? Ikhlas ah, Allah Maha Pengatur Rizki, bisikku dalam hati.

“Ya deh, eh kalau gitu doanya ditambah, semoga mama banyak uang dan usahanya makin maju.” Hehe, maunya…

Kebetulan, hari-hari selanjutnya suamiku selalu bisa menyempatkan ke masjid, dan setiap hari juga dengan bismilah selalu mensedekahkan lima ribu rupiah.

Tanpa terasa, sampai akhirnya, tadi pagi, “Jeng, paling lambat nanti sore gaji sudah masuk.”

“Alhamdulillah…” aku membuka dompet di hadapan suami, “and by the way, lihat ini mas.”

Suami menengok isi dompet “Wow, masih ada tujuh puluh ribu.”

“Iya, nggak nyangka, kaya dompetku ditambahin isinya sama malaikat. Nggak habis-habis. Aku nggak ambil uang dari mana-mana lho.”

Sungguh tidak menyangka, rejeki benar-benar barokah. Teori yang pernah saya baca memang semakin sempit pada waktu memberi sedekah, semakin tinggi balasannya. Dan sekarang saya buktikan sendiri. Kalau dipikir, entah bagaimana bisa cukup. Biasanya dengan uang segitu, cuma cukup beli 1 jenis lauk saja. Tapi Alhamdulillah, walaupun anggaran dipepet habis, setiap hari tetap bisa makan enak dan bergizi.

Ditambah lagi ada keberuntungan-keberuntungan yang terjadi, anak saya yang masih 1,5 tahun menarik meja marmer sampai mejanya jatuh dan Alhamdulillah tidak kejatuhan meja. Padahal kalau dipikir sulit untuk menghindar, apalagi gerakan anak umur 1,5 tahun belum terlalu bagus kontrolnya untuk bisa menghindar. Belum lagi keberuntungan lain, misal suami beberapa kali ikut pesta di kantor pada saat makan siang, hemat uang saku. Bocoran rumah tiba-tiba menutup sendiri. Sulit dipercaya kan?

Kalau begitu, mengapa ya kita manusia begitu takutnya pada masa depannya. Menumpuk-numpuk harta seolah-olah ikut dibawa mati, Allah sudah begitu menjamin hidup kita.

Jadi ingat kata orang tua zaman dahulu, uang itu sedikit cukup, banyak juga kurang…


Switch to our mobile site